Melalui kain-kain tenun yang ringan dan berpotongan
loose,
Oscar Lawalata berbicara tentang kekinian tekstil Indonesia. Dengan konsep yangmatang, ia menggambarkan visinya yang kuat tentang industri kreatif lokal dimasa depan.
Kontemporer adalah kata yang sering dibicarakan di banyak bidang, dari seni rupa, tari, teater ,desain, dan arsitektur, meski banyak yang kurang yakin akan bentuknya. Menariknya, dunia fashion yang lebih banyak berbicara tentang adi busana dan busana siap pakai, bagai mendapat angin segar setelah menyaksikan pergelaran Oscar Lawalata yang bertajuk
Weaving The Future. Desain
fashion kontemporer Indonesia ada di situ. Malam itu, 7 November2010, Oscar membawa 60 koleksi busana siap pakai yang seluruhnya terbuat dari kain tenun.
Asal kain tersebut adalah berasal dari Nusa Tenggara Timur dan Garut, Jawa Barat. Kain-kain tersebut pun dikerjakan oleh ratusan pengrajin tenun dari sana. Tapikain-kain ini bukan lagi sekadar kain tradisional. Bersama
Laura Miles, desainer tekstil lulusan
University of Brighton, Oscar telah menciptakan kain tenun yang sarat kekinian. Sebagai negeri yang kaya akan ragam kain, tentu menghasilkan tekstil kontemporer bukan hal yang sulit bagi Indonesia. Kain tenun pun sudah banyak diolah dan dipergunakan oleh desainer Indonesia lain untuk menciptakan koleksinya.
Pemilihan bentuk busana siap pakai pada
show kali ini pun rasanya bukan keputusan sembarangan. Semua ini menunjukkan penerjemahan visi Oscar yang kuat ke dalam konsep yang matang. Pada konferensi pers sore harinya, Oscar dan Laura sepakat jika faktor yang harus dipecahkan agar sebuah kain tradisional bisa meng-global adalah dengan membuatnya menjadi industri. Dan Oscar paham betul jika hal tersebut hanya bisa dilakukan melalui koleksi siap pakai.
Dibuka dengan ilustrasi-ilustrasi
fashion yang menarik pada layar raksasanya, tiap model mulai berjalan di atas
runway dengan busana rancangan Oscar. Semua berjalan sesuai konsep. Warna yangcenderung pastel, kain ringan yang bergerak bebas - tapi bukan melayang -potongan-potongan yang serba
loose serta diiringi oleh musik yang berkesan
laid back dan sedikit
playful.
Kain yang ringan ini merupakan hasil kolaborasi pemikiran Oscar dan Laura. Dua desainer yang dipertemukan oleh
the British Council ini punya pandangan sama, yaitu kain tradisional yang tebal dan cenderung kaku harus dibuat lebih tipis agar lebihringan. Sebenarnya tujuannya sederhana, agar lebih mudah dipakai sehari-hari,di masa yang kini. Bukan sebagai eksotisme terhadap budaya leluhur, tapi sebagai benang-benang yang menenun masa depan.
(Avanti Anggia, tim peliput Dewi)